Keju

You can’t predict when love comes as well as when they leave.

Kamu tahu keju? Iya, keju. Makanan yang menjadi camilan favoritmu ketika kita sedang bersantai, aku yakin kamu tahu betul apa yang kubicarakan.

Aku dengan coklatku dan kamu dengan kejumu.

Kita senang duduk berdua di dekat kolam berenang di gedung apartemenmu dan bercengkrama, dan masing-masing membawa camilan kesukaan. Biasanya aku akan selalu bertanya banyak hal dan biasanya pula kamu selalu mencoba menjawab pertanyaanku. Entah pertanyaan itu rasional atau tidak.

Tidak ada masalah. Yang aku bingung dari dulu sampai saat ini adalah mengapa kamu begitu mencintai keju.

Kamu bertanya padaku dulu, apa yang begitu menarik dari sebatang coklat. Dan aku menjawab dengan lugas bahwa coklat itu seperti hidup. Manis dan pahit. Berwarna hitam dan putih dan coklat dan merah muda. Iya, coklat merah muda, kamu pasti belum pernah lihat, kan?

Aku bisa bicara berjam-jam tentang coklatku, bahkan aku bisa menceritakan rahasia serta sejarah coklat dari zaman kokoa baru ditemukan sampai saat seseorang menemukan bahwa biji kokoa dapat diolah dan-

Ok. Cukup.

Mari kembali dengan kejumu.

Pertanyaan yang sama dengan jawaban yang masih belum jelas.

“Kenapa keju? Kenapa tidak yang lain, seperti, entahlah. Yang pasti bukan keju, karena rasanya aneh.” Aku duduk di hadapanmu saat aku berkomentar seperti itu dan kamu tertawa pelan. Tawa yang begitu kurindukan sejak saat itu.

“Hm… kenapa ya? Aku pun bingung sebenarnya. Keju… bukan makanan yang kamu bisa makan sesuka hatimu sebenarnya. Keju adalah sebuah makanan pelengkap. Biasanya begitu. Tidak seperti coklat yang bisa menjadi menu utama, keju tidak begitu. Dan mungkin aku merasa bahwa pelengkap adalah sebuah hal yang baik.

Bukannya menjadi hal yang utama itu buruk. Namun, tanpa pelengkap rasamu itu, bagaimana kamu bisa benar-benar merasakannya.” Kamu berhenti sejenak, lalu tertawa pelan, lagi, setelah melihatku. “Aku tahu mungkin kamu tidak mengerti yang aku bicarakan sekarang. Tapi, suatu saat nanti, kalau aku sudah tidak ada mungkin, kamu akan membutuhkan perumpamaan itu. Atau mungkin kamu benar-benar mempunya restoran coklat, entahlah.”

Dan percakapan kita berhenti sampai di sana. Kita lanjut menikmati camilan masing-masing.

Yang aku tahu sekarang setelah kamu pergi meninggalkanku adalah bahwa aku merasakan sesuatu yang kurang. Aku merasa kurang pas. Dan mungkin baru sekarang aku mengerti apa maksudmu saat itu.

Kamu adalah kejuku. Dan dalam hidup ini, kamu pelengkapku. Sayangnya kamu sekarang telah hilang karena tidak setiap saat coklat dan keju dapat bersatu, kan?

.

.

.

.

  • prompt: cheese
  • fyi ini hanya word vomit
  • maafkan ketidak jelasannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s