Pergi dan Kembali

“Jadi ini tempat ke mana kamu pergi selama ini?”

Untuk kesekian kalinya Nixon terbangun tanpa McKinley di sampingnya. Dan ini sudah kali kesekian bagi Nixon, dia sudah lelah menghitung. Dia bahkan sudah tidak perlu mencari lagi kehangatan di pagi hari seperti dulu ketika mereka berdua baru pindah ke sebuah apartemen bersama-sama. Semua kehangatan itu sudah hilang diganti dengan sebuah rasa yang semu. Nixon sudah lupa apa rasanya bangun dalam sebuah pelukan seseorang yang dia sayangi.

Dan demi semua laut yang digandrungi oleh Poseidon, sungguh, Nixon merasa kesepian. Dia bangun dari kasurnya yang empuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selama satu jam tiga puluh dua menit ia tertidur di bathtub. Sampai akhirnya ia terbangun dengan sebuah usapan pelan di kepalanya. Nixon tersenyum melihat siapa yang mengusap kepalanya dengan begitu lembut dan penuh sayang.

“Kamu… dari mana, Lee? Tolong jangan terus-terusan pergi sebelum aku bangun…” Nixon menyapa pelan. McKinley yang ditatap dengan tatapan merindu itu tak dapat melakukan apa pun selain hanya diam terus mengusap kepalanya.

“Airnya sudah dingin, ayo. Nanti kamu sakit,” McKinley bukannya menjawab pernyataan Nixon, dia malah mengatakan hal yang lain. Dia mengangkat perempuan yang saat itu lemah ke dalam pelukannya, tak peduli bajunya basah, ia memeluk Nixon. Nixon yang entah mengapa selalu mandi dengan sebuah dress memeluknya kembali dengan sangat erat. Tak ingin kehilangan satu detik pun kehangatan yang bisa dia temukan dari McKinley.

Nixon bukannya lemah. Hanya saja ia sedang merindu begitu dalam. McKinley melepaskan pelukannya dengan lembut dan masih dengan kelembutan yang sama ia menyuruh Nixon untuk berpakaian agar lebih hangat. Nixon mengenakan nightgown selutut tanpa lengan dan tidak transparan lalu keluar dari kamar mandi. Dia menemukan McKinley sedang berbaring di tempat tidur dengan TV yang menyala, seperti sedang menontonnya. Padahal pikirannya kosong selagi berbaring seperti itu. Dan tentu saja perempuan itu dapat melihat tatapan kosongnya.

Nixon menempatkan dirinya di samping McKinley. “Ada apa?” tanyanya lembut. “Apakah ada masalah dengan pekerjaanmu? Kamu disuruh melakukan apa lagi sekarang?” Namun bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan ia hanya diam dan memperhatikan wajah polos Nixon. “Lee, aku sedang bertanya sekarang. Tolong jawab pertanyaanku,” Nixon memohon. McKinley menghela napas.

“Tidak ada masalah, Nixie. Aku bekerja seperti biasanya,” ia akhirnya menjawab. Keduanya lalu diam untuk waktu yang cukup lama, memperhatikan satu sama lain. Entah bagaimana McKinley bisa berakhir mencintai seorang perempuan yang dianggap semua orang monster karena penyakit mentalnya. Dan entah bagaimana Nixon dapat berakhir dengan seorang pembunuh, ya, seorang pembunuh penuh dosa, dan Nixon tahu betul tentang pekerjaan orang yang ia cintai.

Mereka berdua berbicara,

berbicara,

berbicara.

Sampai akhirnya langit menjadi gelap seperti yang terlihat di balkon dan kaca dekat tempat tidur mereka berdua. Keduanya memakan makan malam masing-masing karena mereka baru makan seharian itu, lalu kembali ke kamar untuk kembali berbicara. Berbicara dengan McKinley yang memeluk Nixon dengan penuh kelembutan. Sampai akhirnya mereka berdua tertidur.

McKinley bangun tepat pukul 2 dini hari dan mulai melakukan pekerjaannya. Ia mengenakan jaket kulit hitam dengan kaus putih di dalamnya, jeans berwarna hitam dan sepatu bootsnya. Sekali lagi ia mengecek telepon genggamnya dan membaca pesan yang masuk. Pukul 2 pagi, restoran dekat tempatmu tinggal, dia sendiri, datang atau sampaikan selamat tinggal untuk Nixon. Pesan singkat yang McKinley mengerti betul apa maksudnya.

McKinley selalu teliti dan memastikan bahwa perempuan yang sangat ia sayang tertidur pulas, sayangnya kali ini ia begitu terburu-buru dan ia sudah hampir terlambat. Saat ia menutup pintu, Nixon bangun. Dengan cepat ia memakai sebuah coat panjang dan memakai sneakersnya, menguci pintu dan cepat-cepat pergi. Ia mengikuti laki-laki penuh dosa tersebut.

Nixon mengikutinya ke sebuah restoran dekat apartemen mereka yang buka 24 jam dan melihat McKinley mendekati seorang laki-laki dan membunuhnya tanpa ada satu suara pun yang keluar. Ia melihat Lee membawa laki-laki itu ke sebuah gudang dan duduk diam di sana.

Hanya duduk.

Dan ia terlihat berpikir. McKinley ingin marah, ia ingin menyudahi semuanya, tapi ia tidak bisa membuat Nixon berada dalam bahaya. Siapa lagi nantinya yang akan menahannya tetap di tanah?

Nixon keluar dari tempat persembunyiannya, “Jadi ini tempat ke mana kamu pergi selama ini?” suaranya begitu pelan dan lembut, hampir tidak terdengar. “Apa kamu marah aku mengikutimu?” ia bertanya dengan pelan.

“Maaf. Maaf, maafkan aku. Mereka menyuruhku melakukannya. Kamu adalah taruhannya, kamu bisa hilang di tangan mereka,” McKinley meraih tangan Nixon yang berdiri tidak begitu jauh darinya. Nixon menunduk dan menariknya berdiri. “Ayo pulang, ini tugas terakhirku.”

Mereka berdua baru berjalan beberapa langkah saat mendengar suara tembakan dan melihat sebuah peluru melayang melalui kepala mereka. Nixon hampir berteriak jika saja ia tidak sering melakukan semua ini. Tapi tetap saja, ia berlari, hampir panik. McKinley mengangkat Nixon dan membawanya di pundaknya. Ia memutar badannya menembak,

Sekali…

Dua kali…

Tiga kali…

Dan kembali memutar badannya lalu lari dengan Nixon memeluknya erat. “Maaf, maaf, maaf. Percaya padaku, ya, Nix? Aku sering melakukan ini, percayalah.” Nixon mengangguk dan McKinley berlari menghindari beberapa orang yang ingin membunuh McKin- tidak, yang ingin membunuh mereka berdua, karena mereka bekerja begitu baik dengan mencintai satu sama lain di tengah-tengah semua kegilaan yang terjadi.

.

.

.

.

.

  • ini pertama kalinya nulis tentang sesuatu seperti ini, dan ini agak panjang
  • maafkan aku yang masih kurang
  • komentar agar diriku bisa improve ya?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s