Semudah Itu Kah, Melupakan?

If I try to move on from you, I wouldn’t have any memories left.

Hari ini, seperti biasanya aku terbangun dengan ingatan tentang masa lalu, tentangmu di dalamnya. Dan kali ini, aku tidak mengerti mengapa begitu menyakitkan rasanya. Aku tahu kamu memang sudah pergi, tapi begini menyakitkannya kah?

Ingatan kali ini tentangmu yang meninggalkanku dan tidak pernah kembali.

Sepertinya hari itu tanggal 13 Juni tahun lalu, sudah setahun berlalu. Bukankah kita sedang berada di sebuah cafè? Kau dan aku memesan hal yang berbeda. Aku dengan kopiku dan kamu dengan tehmu. Aku dan kamu benar-benar berbeda.

Saat itu kita berdua masih tertawa, iya kan? Kita membicarakan hal-hal bodoh yang telah terjadi di hidup kita. Tentang kamu yang senang sekali mengangguku ketika aku menulis atau membaca atau bahkan ketika kita menonton film bersama. Tentang aku yang selalu membuatkanmu segelas teh hangat dengan 2 sendok gula. Dan kamu hanya menerima teh chamomile atau jasmine.

Kamu senang membeli kopi dan memperlihatkannya ke arahku. Untukku, katamu setiap kamu melakukannya. Dan keesokkan harinya aku akan melakukan hal yang sama dengan teh.

Kamu selalu membangunkanku hampir setiap malam ketika kamu tidur larut hanya untuk memberitahukan kepadaku bahwa ada beberapa hal yang harus kamu beritahukan kepadaku. Dan kupikir, itu adalah sesuatu yang sangat penting. Ternyata hanya video bodoh yang katamu harus kutonton.

Setelah kita berbicara, kamu memberikanku sebuah amplop. Isinya beberapa foto dan surat panjang. Tulisanmu. Kamu tidak menulis surat, kamu tidak suka menulis. Bahkan ketika harus menulis entah dengan tangan atau dengan komputer untuk tugasmu saja kamu menyuruhku melakukannya.

Maaf.

Kata itu yang pertama kali kudapat ketika membukanya.

Aku bukan yang terbaik. Maafkan aku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus menulis karena biasanya kamu yang menulis untukku. Aku benci melakukan ini. Maafkan aku.

Kamu mengambil surat itu ketika aku baru mulai membaca. Nanti saja, katamu. Aku mengangguk lalu mengambil surat itu dari tanganmu, menutupnya dan memasukkannya kembali ke dalam amplop berwarna abu-abu itu. Warna kesukaanku.

Lalu kamu mengatakan padaku bahwa kamu harus pergi, ada urusan penting yang harus kamu kerjakan. Aku mengangguk dan pulang.

Aku tidak menemukan apapun tentangmu ketika pulang. Semua barang-barangmu tak ada yang tersisa, bahkan sampahmu sekali pun. Seperti kamu tidak pernah ada dalam hidupku. Aku duduk di sofa. Dan mulai membaca surat itu.

Aku akan kembali. 6 bulan dari sekarang. Maaf aku tidak dapat mengatakannya kepadamu. Aku tidak mengerti kenapa aku tidak bisa. Aku menyayangimu, sangat. Tapi aku harus pergi, kita harus berpisah sementara waktu. Sungguh, aku menyesal harus melakukan ini. Aku akan kembali. Aku janji.

Dari seluruh surat, hanya hal itu yang dapat aku ingat. Dan aku menunggumu selama 6 bulan selanjutnya. Tak ada telepon masuk, tak ada pesan masuk. Tak ada kabar. Seakan-akan kamu tidak pernah masuk ke hidupku. Kupikir kamu pergi ke sebuah pulau untuk beristirahat dari segala pekerjaanmu, dan aku. Dan setelah waktu yang kamu tentukan kamu tidak pernah datang kembali.

Tidak ada apa pun. Kamu lupa. Aku yakin begitu. Dan kamu menemukan sesuatu yang baru yang dapat membuatmu lebih bahagia dan mungkin sesuatu yang dapat mengertimu lebih daripada aku.

Semudah itu kah, melupakan?

4 thoughts on “Semudah Itu Kah, Melupakan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s