Secangkir Kopi

An accident doesn’t always happen accidentally.

Itu adalah kecelakaan. Bagaimana aku bertemu dengannya. Semua kecelakaan. Tak ada yang disengaja. Aku tidak percaya dengan apa yang namanya kebetulan. Tapi mungkin kali ini, dia merubah perspektifku.

Pertemuan pertama kami adalah sesaat setelah aku pindah ke kota kecil yang menyenangkan ini. Sebuah kota di mana semua orang kenal satu sama lainnya saking kecilnya kota ini. Banyak hal indah dan menyenangkan membuatku suka kota ini. Dan dia adalah salah satu keindahan yang terdapat di sini.

Aku baru saja memulai penjelajahanku waktu itu. Aku ingat bagaimana amannya kota ini, semua orang tersenyum ramah kepadaku. Aku suka.

Di saat aku sedang berjalan, dia menaiki sepedanya. Dan menabrakku. Pertemuan pertama yang tidak menyenangkan. Dia langsung turun dari sepedanya dan membantuku berdiri. Aku ingat suaranya saat itu, cemas.

“Maaf, maafkan aku. Astaga, kamu baru di sini kan? Dan aku sudah memberikan pandangan pertama yang buruk.”

Aku tersenyum. “Tidak apa, aku baik-baik saja,” dan ia membalas senyumku.

“Ah, aku harus pergi sekarang juga,” dia melihat jamnya. “Aku benar-benar terlambat.”

Aku hanya mengangguk dan lantas ia pergi.

Pertemuan kedua kami pun kecelakaan, dia menabrakku, lagi, saat aku membawa secangkir kopi panas. Semua orang sudah mengenalku, aku sudah tinggal di sini sekitar dua bulan sekarang.

Untungnya kopi tersebut tidak mengenai kami berdua, karena demi dewa-dewa Yunani, kopi tersebut baru selesai dibuat. Setelah menabrakku, kami berdua layaknya bola basket yang mengenai tanah, memantul. Kopi tersebut tumpah ke tanah.

Dan pertemuan-pertemuan kami selanjutnya selalu adalah kecelakaan. Belum pernah sekali pun aku bertanya tentang namanya, rumahnya, bahkan percakapan kami selalu berisi permintaan maaf dan aku mengatakan aku baik-baik saja.

Tak ada satu pun pertemuan yang kami rencanakan. Dan aku sudah mulai menyukainya. Ia ramah, bahkan saat ia terburu-buru, ia tetap menyapa masyarakat yang ada di jalannya.

Sampai akhirnya, ini adalah pertemuan kecelakaan kami yang ke-8. Dia tidak terlihat terburu-buru sekarang. Dia terlihat sangat tenang danĀ well reserved. Karismanya mengagumkan. Aku menyukainya.

“Untuk terakhir kalinya, aku akan minta maaf. Tidak akan ada lagi kecelakaan, aku tidak akan menabrakmu lagi…” dia tersenyum lalu mengenalkan dirinya sendiri. Aku tidak terlalu suka berinteraksi, mungkin dia menyadarinya. “Apa yang dapat kulakukan untuk membayar segala kecerobohanku?”

Kali ini ganti aku tersenyum. “Kamu tahu namaku, benar?” dia mengangguk cepat. “Secangkir kopi sebenarnya terdengar menyenangkan untuk membayarnya.”

Dia menyetujuinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s